Sebuah Perjalanan


Rencana

Sejak anakku pergi mengikuti suaminya ke Sydney, dalam hati ini muncul keinginan untuk mengunjungi dia atau tepatnya jalan2 ke kota itu dan keliling kota2 sekitarnya,
Keinginan ini hanya mampu diungkap didalam hati, karena pekerjaan dan kondisi keuangan sepertinya tidak bersahabat dengan rencanaku ini. Dalam do’a sesudah sholat, keinginan ini selalu aku sampaikan kepada-Nya, dengan harapan DIA mendengar dan membuka jalan menuju kesana.

Kira2 bulan Februari 2009, keponakan berencana pergi ke Sydney pada pertengahan bulan Juli untuk mengantar anaknya yang akan bersekolah disana.
Tanpa berpikir panjang aku menyampaikan rencana pergi bersama ponakan pada suami, ijinpun keluar tanpa banyak pertanyaan.. Hmmm legaaa….

Setelah melalui beberapa proses, akhirnya tanggal kepergian jatuh pada hari Senin 13 Juli 2009. Visa yang kudapatpun cukup membuatku senang dan gembira karena multiply entry visa, berlaku hingga bulan Juni tahun depan..

Aku sedang rajin jogging, seminggu 5 kali dengan jarak 3,6 km dengan waktu setengah jam. Jadi pasti dong disana aku merencanakan melakukan kesenanganku ini apalagi kata anaku ada sebuah park besar, Centennial Park, yang sangat ideal untuk jogging, selain tempatnya yang sangat luas, juga udaranya yang bersih.. Joggingpun dipergiat….

Kecelakaan tidak pernah diundang

Tidak terasa hari H keberangkatan tinggal sebulan. Semua persiapan, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, terus aku lakukan, tak ketinggalan jogging. Aku selalu merasa gagah setiap melakukannya. Bagaimana tidak gagahm diusiaku yang sudah menginjak 60 th, badanku masih terasa enteng apalagi hasil jogging selama ini sudah terlihat. Berat badanku dari 59 menjadi 55 kg, dan yang paling menggembirakan, lingkar pinggang dari 86 menjadi 78.. alias turun 8 cm. Benar benar sebuah prestasi bagus, membuat semakin pede aje neeh.

Semua rasa gembira, senang dan pede  ini terganggu oleh sebuah kecelakaan kecil dirumahku. Hari SAbtu sore tgl 13 Juni 09, aku jatuh ditangga, terdengar bunyi keretek pada telapak kakiku berduet dengan bunyi aaaaaaawww dari mulutku. Telapak kaki langsung menggembung seperti ubi jalar yang montok. Saat kucoba untuk berjalan, Masya Allaah sakitnya, digeser sedikitpun sakit.. Seketika hilanglah segala kegagahan itu, yang tinggal, seorang wanita 60 tahun berjalan dengan kaki diseret, entah sampai kapan gaya ini harus aku praktekan. Ada rasa perih didada ini, sakit karena merasa segala kegiatan gagahku harus berakhir sampai disini.
Beruntunglah aku banyak mempunyai teman didunia maya, mereka banyak memberi saran, dari mulai berdo’a hingga datang keahli pijat patah tulang. Dari yang hanya sekedar saran sampe yang bersedia mengantar ketempat pemijatan.. Terima kasih teman2 semua, sepertinya yang aku akan lakukan dulu adalah kerumah sakit spesial tulang agar aku tahu persis apa yang terjadi denagan kakiku ini.
Hasil rontgen, kata dokternya seru banget, retakan dimana mana. Pulihnya lama, paling cepet tiga bulan dan bulan pertama harus benar2 dijaga..Oh my God.. lama amaaaaat..

Ketika disarankan untuk digips, aku masih menawarnya karena aku takut repot kalau mau wudhu dan terutama setelah denger gossip dari yang pernah digips, masalah gatel.. huuh gak tahan deh… Akhirnya kakiku dibungkus dengan perban decker saja..

Pulang dari rumah sakit, aku putuskan untuk tidak banyak berjalan, apalagi turun naik tangga. Jadi tinggal terus di lantai atas yang artinya semua kegiatan harus dilakukan dilantai atas.. titik.. tidak ada kompromi.
Seminggu lebih aku bertapa dilantai atas. Secara pelan bengkaknya mulai kempes, rasa sakit melangkahpun sedikit demi sedikit berkurang, aku merasa mulai nyaman, terutama melangkah sudah tidak begitu sakit dan kaki sudah tidak diseret lagi.
Merasa sudah lebih nyaman dalam berjalan, aku mulai lepaskan pemakaian perban decker. Jalan tanpa decker rasanya lebih nyaman dan lebih ringan untuk melangkah. Dengan lincah aku berjalan kesana kemari, keproyek dan ke Super Market. Tiba2 ada sesuatu yang mulai terasa tidak nyaman ditelapak kaki ini… Yaa Tuhan maafkan aku.. aku takut retakan kakiku terbit lagi…
Takut ketahuan suami, aku pura2 ok, nothing happened.

Sesampai dirumah, aku berjanji tidak akan pernah melepaskan decker lagi sampai tulang 2 itu benar benar lengket satu sama lain secara sempurna.
Suami pun heran melihat aku tiba2 begitu bersemangatnya memakai decker. terpaksa mengaku, bahwa kakiku terasa tidak nyaman lagi.. Dia hanya menanyakan bagaimana nanti kalau pergi, di Airport itu banyak jalan. Jawabanku singkat tapi pasti.. bisa sewa kursi roda….
Karena Ticket sudah dibeli, kepergian ke Sydney sudah pasti tidak bisa dibatalkan. Masih ada waktu, masih 14 hari lagi, cukuplahuntuk membuat kakiku bisa berjalan, walaupun harus dengan gaya Moonwalknya Michael Jackson..

Semakin menghitung hari.. hati semakin deg2an.. apakah kakiku mampu bekerja sama dengan diriku sehingga bisa berjalan dengan gagah lagi.. Akhirnya aku menyadari bahwa kepulihan kaki ini bagian dari proses alam dan aku harus segera berserah diri secara total kepada-Nya yang akan membantu proses alam ini berjalan dengan baik.
Hatipun menjadi tenaaaaang dan pasrahhhh…

Hari H

Sebenarnya hari H ini jatuhnya di hari Senin 13 Juli 2009, tapi karena aku harus memilih dan mengatur koper bareng sama ponakan, jadi harus berangkat ke Jakarta sehari sebelumnya. Setelah cipika cipiki sama suami, aku berangkat meninggalkan rumah untuk 3 minggu kedepan…

Berangkat ke Airport harus benar benar diperhitungkan jarak dan kemungkinan macet, hari Senin ini adalah hari pertama anak2 masuk sekolah dan jamnya pas jam pulang kantor. Diputuskan berangkat dari rumak ponakan di Pondok Gede jam 16.00 dengan harapan sampai Airport sekitar jam 18.00. Pesawat take off jam 20.55. Jadi cukup banyak waktu untuk check in dan urusan Fiskal.

Tiba di Airport, ternyata lebih cepet dari perkiraan, Alhamdulillah..waktu untuk mengurus keberangkatan lebih panjang lagi.
Kondisi kaki masih pincang, tapi mungkin karena semangat tinggi, tisak terasa sakit atau apapun dan dengan semangat 45 aku berjalan dengan setengah gagah.
SEgala urusan dilaksanakn oleh ponakan sekeluarga. Dia, suami dan anaknya, sedang aku ? Duduk santai dikursi tunggu…
Semua urusan keberangkatan beres, tinggal boarding.

Menunggu panggilan boarding, kita makan di Mac D, sambil menunggu kakak iparnya ponakan.
Kita ngobrol ngalor ngidul, tanpa terasa waktupun berjalan cepat. Panggilan boarding mulai terdengar. Segera berdiri dan berjalan cepat.. tepatnya agak cepat, karena tiba2 aku merasa aneh dengan kakiku.. kurang bisa diajak jalan gagah.. aaah baru sadar kalau kaki ini sedang menderita.. maafkan sayang. Bukan aku mau memaksamu berjalan cepat.. tapi ini terpaksa….
Tanpa bertanya a tau u, kita masuk kesatu gate. Setelah ketemu pemeriksa boarding pass.. huuuuh ternyakta kita salah masuk.. waddaaaaw aku harus memaksa sang kaki ini untuk berjalan lebih cepat melaju kearah gate lain yang ternyata… jauh juga.
Dengan membaca Bismillahi RachmaniRachiiim, aku berjalan mengikuti kecepatan ponakanku yang secara dia sadari harus agak diperlambat.
Segala perjuangan menuju kursi duduk dipesawat berakhir. Dengan segala suka cita , aku menempatkan badanku sedemikian rupa pada kursi yang sudah tersedia.. nyamaaan terutama untuk kakiku.
Walaupun areal gerak agak sempit, no problemo, cukup nyaman kok….
Pemberat kelopak mata mulai terasa bekerja, nguantuk rek.. matapun merem sebelum pesawat bunyi.. keterlaluan emang..
Ternyata tidak lagsung tertidur karena secara otomatis otak ini menyuruh badanku berlaku sopan.. masa belum berangkat udah tidur….
Bunyi mesin pesawat mulai terdengar.. rasanya merdu sekali.. membuat kelopak mata enggan mengangkat tinggi.. Suara mesin bertambah kencang.. dan… nguuuuiiiiiinggg…  terbanglah pesawatku….
Kita sudah diudara.. yang paling bahagia sudah barang tentu kelopak mataku karena dia tidak harus memaksakan diri untuk tetap terbuka…..

Huuuh dinginnya…

Tiba2 kaki ini terasa duiingiiin banget.

Ooh pantesan, celanaku hanya selapis, hanya blue jeanku yang cuma semata wayang.

Anakku selalu berpesan kalau aku harus memakai celana berlapis karena dipesawat pasti dingin..

Makin lama si dingin ini makin enggak tahu diri, dia sudah berani merambat keseluruh badanku, walaupun pelan tapi nyebelin banget deh.

Sinar dalam cabin, sayup sayup sampai, karena lampu utama dimatiin.

Semua penumpang sepertinya sudah dibawa kealam mimpi.

Tuiiiiiing.. lampu otakku menyala…

Ideapun datang, aku harus mendobel celanaku.

Sialnya badan ini seperti enggan diajak ke toilet agar pasang lapisan dalem tidak terlihat absurd.

Akhirnya aku putuskan untuk melakukannya tetap ditempat duduk ini.

Caranya ??

Inilah yang muncul secara brilian diotakku.

Akupun segera bersiap action..

Selimut aku tarik sampai menutup seluruh tubuhku.

Mulai kubuka retsluitng celana jeanku.

Badanku mulai meliuk liuk seperti penari perut Mesir.

Hups.. harus stop dulu, ada pramugara lewat dan penumpang yg bangun.

Setelah keadaan aman, akupun mulai meneruskan meliuk liukan tubuh atau lebih tepatnya bagian pinggul.. ooooo seksinya gerakan aku ini.

Celana jeanku berhasil di put off.

Selimut kurapihkan kembali dan menutup tubuhku terutama bagian perut kebawah.

Bayangkan kalau ada yang iseng membukanya.. waaaw.. bisa2 seluruh penumpang bertepuk tangan karena tarianku berhasil.

Legging pelapis bagian dalem aku persiapkan untuk menyertaiku melakukan tarian episode kedua.

Gerakan indah pertama adalah membungkukkan badan kedepan hingga hidung mencium lutut. Legingpun mulai beraksi, dengan lembut dia mulai masuk kedalam kakiku.. satu persatu..

Hahhhh.. tarik nafas dulu.. menegangkan sekali tarian ini.

Sekarang posisi leging sudah berada dibawah pinggulku.

Liukan pun semakin menggila, goyangan pinggulku semakin hot aja,

Hmmh.. berhasil juga, sang legging dengan manisnya berada pada tempatnya.

Episode berikut, mengembalikan celana jeanku keposis semula.

Tarian halus dimulai lagi, badan membungkuk, hidung mencium lutut

Sekarang giliran jeanku harus masuk kedalam kedua kakiku.

Liukan indahpun dimulai lagi, bedanya dengan yang tadi, aku tidak terlalu tegang karena andaipun selimut tersingkap, sudah aman, paha mulusku tidak akan memperlihatkan diri lagi.

Pinggul mulai meliuk liuk, tak kalah seru dan hotnya denga tarian episode pertama.

Setelah liukan pinggul menggila…..hmmmm akhirnya .. selesailah seluruh prosesi penghangatan kaki ini.. Legaaaaaa.!!!!!

Tidurpun mulai memanggil lagi..

Sydney… here I coooome….

Terbang dari Jakarta ke Sydney kira2 enam jam. Terdengar pemberitahuan bahwa Sydney tinggak satu jam lagi. Haaaah ??? Rasanya baru terbang dua jam dan rasanya aku gak bisa tertidur dengan lelap karena tidak ada film bagus muncul dalam pikiranku. Ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam cinta, masih membayangkan empat jam lagi perjalanan, eh tahunya tinggal satu jam .. diudara geetoo looh.
Busana musim dingin sesuai dengan petunjuk anakku sudah lengkap melekat dengan kuat menutup tubuhku hingga tidak ada satu celahpun untuk sang dingin menyelusup masuk.
Perjalananpun mulai kunikmati.. hehehe.. kok baru sekarang seeh, bukannya dari tadi.
Detik demi detik kulalui dengan penuh kesabaran.. kok satu jam itu lama banget ya ?
Pesawat mulai menurunkan badannya.. sekilas terlihat dari jendela sebelah kiriku, lukisan langit terpampang dengan agung. Duuuh indahnya ciptaan Tuhan ini. Warna biru langit yang bergradasi halus bergabung dengan warna orange kecoklatan dan warna hijau tua dibagian bawahnya… Indah.. Indaaaah sekali..
Sayang pemandangan yang begitu indah tidak dapat kuabadikan karena tempat dudukku berada dibagian tengah.
Pesawatpun mendarat…
Setelah melalui perjalanan panjang di Airport…. Hmmmm.. untuk pertama kalinya kumenghirup udara Sydney…. Brrrrrrrrrrrrrrrrrrr.. duuiiingiiiiin rek..!!!!

Jet leg

 Sesuai permintaan anakku, pemberitahuan kedatanganku dilakukan sesudah keluar Airport. Katanya. Kalau dia yang harus nunggu, bayar parkirnya mahal… beda banget sama di Cengkareng.Sambil menunggu, dingin sudah sangat menusuk tulang. Untung didepan Airport ada yang café.. lumayan segelas coklat panas dapat mengurangi sedikit rasa dingin.

Tiba2 dari belakang ada yang memeluk dengan dahsyat.. hampir aku terjungkal….. My lovely daughter….Setelah bercipika cipiki, kita melaju kerumah dia yang baru pertama kali ini aku akan lihat dan diami.

 Waah ternyata rumah anakku cukup nyaman, dengan kamar tidur yang tidak terlalu luas, tetapi cukup hangat dan bersih.Tidak kuduga sekarang dia pintar mengurus rumah. Tak salah aku mendukungnya untuk pergi jauh kesini. Mungkin kalau dia ada di Indonesia, sekarang ini masih tetap tergantung kepada pembantu.. like her mother..Disini segalanya dia lakukan sendiri, dari mulai beresin rumah, masak, nyetrika, sediakan sarapan untuk suami dan segala pekerjaan rumah tangga lainnya.Sangat jauh berbeda dengan kebiasaan dia dirumah ibunya.. tapi gak usah diceritain lagi lah, percuma tidak ada gunanya, sekarang dia sudah berubah total. 180 derajat…

Makan siang ternyata harus keluar, karena dia belum sempat masak, ya sudah enggak apa2. Katanya disini banyak juga masakan Indonesia.

Setelah melalui proses diskusi yang cukup panjang, akhirnya makan siang … Indomie rebus sajaa….

Makan malam.. barulah yang istimewa.. Sop buntut dan yang lainnya..Pulang makan.. mata terasa sangat berat.. kelopak mata kembali bandel… maunya nutup melulu…. Akhirnya keinginannya tercapai… dengan bahagianya sang kelopak menutup.. sesaat kemudian film dilayarnya mulai diputar…… zzzzzzzz….

Keasyikan nonton film dikelopak mata…. Tidak terasa bangun jam 10.00 siang..Pertama kali dalam sejarah hidupku, bangun sesiang itu… Tidurku ueeenaaaak bangeeeet..

Mungkin itu yang disebut Jetleg… kutak tahu pasti..

( To be continued )…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: