Grafiti di Jl. Siliwangi

26 10 2008

Ada rasa gembira tatkala mendengar sebuah rencana kepedulian terhadap wajah dinding jalan Siliwangi, namun kegembiraan berganti menjadi kegalauan ketika mendengar bentuk kepedulian itu berupa penggambaran pada dinding tersebut

Hah ?, Ada apa ? Kenapa dinding itu harus diberi gambar ? Bukankah dengan dibersihkan saja sudah cukup indah ?
Sampai detik ini pun hati ini masih tetap tidak menerima pada kenyataan yang terjadi .. Dinding itu tetap digambar-gambar…dilukis-lukis… oleh sekelompok manusia. Betapa malu hati ini, kenapa harus terjadi ? Apakah mereka kurang pekerjaan? Atau mereka membutuhkan sebuah tempat untuk dapat mempertontonkan kebolehan dan kehebatannya dalam gambar menggambar kepada masyarakat luas di Bandung ini.

Jalan Siliwangi adalah sebuah jalan yang indah disaat dulu mulai dibentuk dan kemudian dijadikan jalan penghubung bagian Utara Barat kota Bandung dengan Utara Timurnya. Jalan ini masih tetap berfungsi seperti yang direncanakan dulu, namun dalam kepadatannya sudah sangat tidak terkendali lagi. Rasanya sudah tidak terlihat lagi keindahan yang dulu pernah menjadi kebanggaan kota.

Akibat sebuah longsor yang pernah terjadi pada saat hujan lebat, dibuatlah dinding penahan tanah sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya longsor kembali.
Pada saat pembangunannya, muncul suara2 yang pro maupun yang kontra, yang merupakan hal yang biasa bagi sebuah perbuatan yang dianggap akan memberikan suatu pemandangan baru dari wajah jalan. Namun akhirnya suara suara kontra berubah menjadi mendukung ketika dinding itu selesai karena memang terlihat bagus dan tidak membuat jalan Siliwangi menjadi buruk rupa, bahkan dengan penampilan material yang natural tanpa polesan apa apa, tampilam dinding ini seolah olah memperlihatkan sebuah kejujuran dari sebuah keindahan buatan yang bersatu dengan keindahan alam disekitarnya.

Waktu terus bergulir, jalan Siliwangi pun mengalami perubahan dalam kepadatan lalu lintasnya, yang memunculkan idea idea gila dari beberapa kelompok masa yang merasa dinding itu adalah tempat untuk menyampaikan aspirasinya. Dengan teganya mereka membuat dinding ini menjadi begitu menderita oleh tempelan tempelan kertas yang menurut mereka lebih penting daripada wajah indahnya.

Ah betapa menderitanya dia, warga Bandung yang dianggap akan mencintainya ternyata membuatnya coreng moreng tidak karuan, mungkin kalau dinding itu mampu mengekspresikan perasaannya dia akan menjerit, memohon pada setiap orang yang merekat wajahnya dengan secarik kertas untuk tidak melakukannya, betapa wajah itu menjadi porak poranda penuh dengan tempelan yang compang camping. Sungguh sedih hati ini, betapa kejamnya manusia.

Wajah muram tidak bercahaya itu tidak berdaya menolak dirinya untuk diperlakukan semena mena oleh kelompok demi kelompok manusia, dengan segala duka dia membiarkan wajahnya ditempel dan dicoreng demi yang dinamakan sebuah aspirasi.
Semakin lama wajah itu semakin kuyu, duka dihati semakin dalam terasa, manusia semakin tidak peduli pada deritanya………….….dan…………..

Ketika ada sebuah gagasan muncul akan memperindah kembali wajah itu … rasa syukur terucap dari masyarakat yang peduli…harapan pun muncul akan kembalinya sebuah keindahan.
Seperti seorang pengantin wanita yang sedang menunggu pria pendampingnya, hati ini berdebar..bagaimanakah rupa para penyelamat ini, bagaimana cara mereka mereka membuat wajah ini kembali bersinar dengan segala keindahannya? Tak sabar rasanya menanti saat itu tiba.

Saat yang ditunggupun tiba…..
Hari pertama, wajah itu dibersihkan dari segala coreng moreng, mulai kelihatan berseri kembali, seolah olah tidak pernah ada penderitaan. Nafaspun lega, Alhamdulillahi Rabbil Alamin, akhirnya wajah itu berseri kembali.
Hari kedua… loh …kok dipetak petak ? Mau diapain dia ?.. Kenapa banyak orang yang membawa cat warna ?.. Loh ada apa ini? Kenapa banyak orang berbondong bondong datang dengan kwas ditangannya ?…………….?………

Yaa ampuuun Gusti, kenapa kwas itu berubah menjadi senapan ? Kenapa cat warna itu berubah jadi peluru tajam…… Tolong….tolooong .. Ampun ..ampuuun…. kasihani wajah ini….. jangan…jangan disiksa lagi.. Jangan .. jangaan .. tembakkan peluru itu kewajahku…sakit .. sakit .. sakiiiiit sekali……Ampun….ampuun ampuun jangan disiksa lagi wajah ini, …ampuuun….ampuuun….ampuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun. !!!!!!!!!!!.

…………………………………………………………………………………………………………………

Jangan biarkan aku menderita lagi
Jangan biarkan aku tersiksa lagi
Biarkan aku bersinar lagi
Walau dalam kesederhanaan

Jangan lukai wajahku lagi
Jangan warnai wajahku lagi
Biarkan aku bersatu lagi
Dengan keindahan alam sekitar

Tolong bersihkan kembali wajah ini
Tolong rawat kembali wajahku ini
Jangan biarkan seorangpun mengotori lagi
Agar kebahagiaan selalu terpancar
Dalam sinar keindahan alam.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: